KESAN BERSAMA HJ. LUNDUNG
Oleh : Ruslang T
Sebagai orang kampung yang lahir pada zaman penjajahan, Hj.Lundung adalah sosok yang tidak pernah mencicipi bangku sekolah formal, bahkan dulu ada namanya program Pemberantasan Buta Huruf (PHB) saja tidak pernah diikuti, sehingga beliau praktis tidak bisa baca-tulis. Akan tetapi, menurut pengamatan penulis, Hj.Lundung adalah seorang selain penyayang, bijak, dermawan, juga termasuk orang yang cerdas melakoni kehidupannya. Hal ini terlihat dari prilaku dan tutur kata beliau sangat sejuk, jika kita berhadapan dengan beliau. Sehingga sangat pantas kalau disegani dan disenangi oleh setiap orang yang berinteraksi dengannya, kapan dan dimana saja.
Selaku salah seorang cucu Hj.Lundung, yang pernah hidup bersama dan dididik langsung oleh beliau, penulis mempunyai banyak pengalaman hidup yang memberi kesan tersendiri, diantaranya:
1. Mengajarkan Kemandirian dan Kerja Keras
Penulis pada masa anak-anak bersama dengan Hj.lundung, tidak pernah tahu dan tidak paham maksud apa yang diajarkan oleh beliau. Setiap libur sekolah, atau bahkan hampir setiap hari sepulang sekolah, Hj.Lundung mengajak penulis pergi ke kebunnya di dusun Samallangi, yang berjarak 4 KM dari desa Lancirang tempat kediaman kami. Setiap pulang dari kebun, tidak pernah pulang kosong, selalu membawa hasil kebun, seperti; buah pisang, buah kelapa, ubi, sayur mayur dan lain-lain. Oleh karena pada masa itu, penulis masih bocah seorang anak kecil (umur 7 tahun), Hj.Lundung sudah melatih dan menyuruh penulis sepulang dari kebun harus ada bawaan dengan cara memikul, mulai 2 biji buah kelapa, lama kelamaan menjadi 4 biji, 8 biji, 10 biji buah kelapa yaitu 5 biji di depan dan 5 biji di bagian belakang untuk dipikul (istilah bugis, mallempa). Biasa juga divariasikan, sebelah 4 sisir buah pisang dan sebelah 6 biji buah kelapa. Jalan kaki sejauh 8 KM pergi-pulang, terkadang cuaca bersahabat, dan tidak jarang dengan cuaca ekstrim, melalui jalan setapak dan pematang sawah, menyeberangi sungai dengan bawaan beban adalah rutinitas yang kami jalani dengan rasa penuh suka dan duka. Dan setelah beranjak dewasa, bahkan setelah berumah tangga, ternyata penulis baru memahami akan makna dan hikmah dari pembelajaran aktifitas yang diajarkan oleh Hj.Lundung. Bahwa sesungguhnya dalam hidup ini, kadang harus dimulai dengan susah payah, kita tidak perlu malas dan manja, melainkan kita harus mandiri, bekerja keras dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup.
2. Kalau mau kuat harus makan
Bagi Hj.Lundung, bahwa asupan makanan yang masuk dalam tubuh sangat menentukan seseorang untuk bisa bekerja maksimal. Sehingga beliau dalam keseharian, sebelum beraktifitas, menganjurkan makan terlebih dahulu. Hal ini, dibuktikan setiap pagi selepas shalat subuh, makanan sudah disiapkan dan siap tersaji untuk anggota keluarga, biasanya dalam bentuk kue-kue khas orang bugis (roti labbu, putu rang, bandang, dan lain-lain). Pada hari itu juga, sekitar jam 8.00, beliau sudah menyiapkan sarapan pagi untuk anggota keluarga. Demikian pula, setelah shalat dhuhur, makan siang sudah disiapkan, dan malamnya antara magrib dan shalat Isya, biasanya anggota keluarga sudah selesai makan malam. Ternyata, semuanya ini dilakukan Hj.Lundung dengan prinsif bahwa orang yang kurang disuplai makanan, mustahil bisa keberja maksimal, dan bahkan tidak bisa berfikir dengan baik.
3. Penyayang, sangat perhatian dan tidak pamrih
Pada budaya adat orang bugis, masih kental keturunan ningrat seperti Petta, Puang, Bau’, Andi dan Uwa’, yang menunjukkan kasta seseorang dalam masyarakat. Bagi Hj.Lundung, sepaham penulis, ternyata beliau bergelar “Kino”, sehingga panggilan namanya Kino Lundung, yang berarti setara sama dengan gelar lainnya. Dan faktanya, Kino Lundung, sangat kental dan akrab dengan keluarga arung (Soraja), buktinya, Kino Lundung pernah menjadi ibu susu, atau yang menyusui seorang anggota keluarga Bau’ Soraja, cucu dari Pettai Batu yang bernama Petta Coke, yang sekaligus dijadikan anak angkat beliau. Hal ini, Hj.Lundung melakukan semunya sebagai bukti seorang wanita penyayang yang penuh perhatian dan tidak butuh imbalan.
4. Memperhatikan Kebersihan dan Kesehatan
Ada kebiasaan Hj.Lundung, kalau pergi ke kebunnya di Samallangi, tidak
pernah lupa singgah mengambil/menggali “ Ure’ Use’ ” (semacam akar
rumput liar) yang banyak tumbuh subur di pematang sawah yang dilalui
pejalan kaki. Ure’ Use’ ini mempunyai ujung akar yang sangat runcing dan
tajam, sehingga membuat rasa nyeri dan sakit bila sempat terinjak kaki, tetapi
aroma akarnya sangat harum dan wanginya khas.
Ure’ Use’ ini dipakai Hj.Lundung untuk mencampur membuat bedak.
Prosesnya, yaitu beras yang sudah direndam selama waktu tertentu, setelah
dianginkan beras tersebut dicampur beberapa jenis daun-daunan termasuk
Ure’ Use’, lalu ditumpuk sampai halus akhirnya berbentuk tepung, dan untuk
memisahkan tepung dengan ampasnya, dipakai saringan khusus (istilah
bugis; Tanda’).
Tepung bedak yang sudah ditapis sampai halus, dicampur dengan air sampai
berbentuk adonan, lalu dibentuk seperti bulatan sebesar kelereng, kemudian
dikeringkan di bawah terik sinar matahari untuk mendapatkan bulatan bedak
yang siap pakai, dan biasanya sudah tersimpan baik dalam toples.
Sependek ingatan penulis, selama diasuh langsung oleh Hj.Lundung, nyaris
setiap malam sebelum pergi tidur, Hj.Lundung selalu meminta dan menyuruh
untuk digosokkan pakai bedak yang sudah dibuat sendiri di badannya bagian
belakang (Laigoso’keng lekke’na).
Ternyata kebiasaan Hj.Lundung ini sangat terkait dengan kebersihan tubuh,
yaitu sebelum tidur semua daki yang melekat di badan terlebih dahulu
dibersihkan dengan cara “ ma’ bedda “ (memakai bedak), dan memang selain
memberikan aroma yang wangi, juga membuat kita bisa tidur nyenyak.
Kemudian, kalau sudah bangun pagi, atau setelah Shalat Subhu, sebelum
beraktifitas Hj.Lundung selamanya harus mandi terlebih dahulu, hal ini selain
membuat tubuh bersih dan segar, juga sangat baik untuk kesehatan.
Selain memperhatikan kebersihan tubuh agar sehat, ternyata Hj.Lundung
punya prinsif yang lebih penting lagi terkait kesehatan, yaitu segala sesuatu
yang berbentuk makanan, sebelum dikonsumsi terlebih dahulu harus
diperhatikan unsur halalnya. Sebagaimana makanan yang tidak jelas
sumbernya dan masuk dalam tubuh, akan memberi efek pada kesehatan.
Subehanallah, Hj.Lundung adalah sosok seorang yang tidak bisa baca-tulis,
telah banyak memberi pelajaran dan kesan bermanfaat untuk diterapkan
dalam kehidupan. (Wallahu’alambissawab)